Jika Tak Bisa Merubah Hidup. Ubahlah Cara Berpikir

Jika tak bisa merubah hidup. Ubahlah cara berpikir

Kenaikan kelas kali ini memberikan banyak pelajaran hidup bagi saya, bukan menang dan terus berjalan, melainkan kalah dan belajar darinya. Awalnya memang tak mudah, tapi buku Si Cacing & Kotoran Kesayangannya telah membantu saya melihat hidup dari sudut pandang yang lebih baik.

Saat manusia dipojokkan, disalahkan, dan hal hal berbau itu. Besar kemungkinannya mereka akan depresi. Kecil kemungkinannya manusia bisa langsung menerima, berbesar hati, dan memaafkan dalam kurun waktu yang singkat. Meskipun sudah sering menonton acara motivasi, tapi tubuh dan hati membutuhkan waktu dan tak sedikit air mata untuk mempelajari semuanya. Bukan tak mungkin, hanya saja membutuhkan waktu.

Kali ini pelajaran hidup yang saya terima bisa dibilang hal terbesar yang sudah saya tunggu. Tidak bisa bilang bahwa sepenuhnya saya bahagia, karena “life lesson learned with tears”. Dulu saya selalu mendengar kata “hidup itu seperti roda. Kadang kita diatas, kadang kita dibawah”. Saat itu saya pikir saya sedang diatas, dan berpikir bagaimana kalau saya dibawah? Bagaimana rasanya depresi? Bagaimana rasanya gagal? Secara tidak sengaja saya menantikan masa itu. Dan masa itu adalah sekarang

Singkat cerita nilai saya kecil karena memang itu salah saya sendiri yang malas belajar dan mengentengkan. Tapi sungguh bukan itu yang membuat saya sakit hati. Melainkan cara orang tua melihat saya. Seakan kekalahan saya adalah hal terbesar dan keberhasilan selama ini tak lebih besar daripada telur semut.
Saya berdiam diri dikamar menangis, marah.
Beberapa hari setelahnya ada niat untuk membaca buku yang sudah nongkrong lama di meja belajar, dulu sempat dibaca hanya saja tidak sampai separuh sudah saya tutup dan berganti baca buku yang lain.

Si Cacing & Kotoran Kesayangannya. Begitu judul buku karangan Ajahn Brahm ini. Dulu buku ini terlihat aneh bagi saya yang belum sedikitpun menyicipi pahitnya hidup. Saya buka-buka bab di buku ini dan baca sekilas. Betapa terkejutnya saya ternyata mau baca bab apapun di buku ini, semuanya berhubungan dengan hidup, dengan masalah apapun dalam hidup. Saat membaca, seakan tembok masalah yang menghalangi saya melihat kedamaian sedikit demi sedikit hancur. Semua pertanyaan mendapatkan jawabannya bahkan lebih dari itu. Bukan hanya masalah kenaikan kelas saja yang terjawab. Melainkan semua masalah yang pernah saya dapat semasa hidup pun kini sudah Rest In Peace. Masalahnya mati, sekarang diganti Peace. Pandangan saya terhadap hidup jadi lebih terbuka, lebih tenang.

Saya berpikir bahwa mungkin ini lah saat yang tepat bagi saya untuk mempelajari pelajaran hidup tingkatan yang lebih tinggi. Allah sudah mengatur semuanya. Disaat saya sudah cukup dewasa untuk mengerti, disaat ada banyak teman disekitar saya yang mampu mengangkat saya saat saya down. Semua itu membuat saya bersyukur lebih. Tentang orang tua, buku itu mengingatkan saya “Memaafkan adalah salah satu cara untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan”. Hidup sudah begitu adanya, mengubahnya berarti menolak untuk mempelajari anugerah pemberian Yang Maha Kuasa. Ketika kita mau membuka pikiran, memaafkan, dan mengubah mindset dari yang ingin memberontak menjadi “aku mau disini” akan memberikan perubahan besar pada hidup. Lebih banyak kita memahami sisi positif, lebih banyak kebahagiaan yang kita dapat. Apalagi tujuan hidup selain untuk itu. Untuk bahagia.

Mengubah sudut pandang terhadap hidup lebih mudah daripada susah payah mengubah hidup itu sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s