Draft Otobiografi (butuh kritik dan pembetuan)

Nama saya Annissa Manystighosa, lahir Situbondo, 3 September 1996. Putri pertama dari pasangan Hamid J. Fardli dan Elita Kusuma Dewi. Ayah saya seorang pegawai Bank BRI dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Saya memiliki seorang adik lelaki bernama Arryzal Asyraff Mutawakkil yang saat ini berumur 12 tahun dan bersekolah di SDN 1 Dawuhan. Saya tinggal di Jl. Wijaya Kusuma 48C, Situbondo.

Riwayat pendidikan saya yaitu saya bersekolah TK di TK Al – Hidayah 1, menempuh pendidikan dasar di SDN 1 Dawuhan, melanjutkan ke SMPN 1 Situbondo, dan sampai saat ini saya bersekolah di SMAN 1 Situbondo.

Saat masuk TK umur saya masih 4 tahun, karena usia saya yang lebih muda dibanding teman teman yang lain, orang tua memutuskan untuk menyekolahkan saya satu tahun lagi. Jadi saya di TK Al – Hidayah 1 selama 3 tahun. Selama masa saya bersekolah TK, ada satu hal yang membuat orang tua saya heran, yaitu saya suka berdagang. Saat itu teman teman saya suka sekali mewarnai, sedangkan saya sendiri tidak begitu suka. Saya melihat mereka suka membeli gambar kartun polos (tidak berwana) dan mereka warnai. Saya pun juga ikut beli gambar itu, tapi tidak untuk diwarnai. Entah dapat ide dari mana. saya lalu menggandakan gambar itu di toko fotocopy dekat rumah dan menjualnya kepada teman teman. Saya yang saat itu tidak mempunyai pengalaman apapun dalam hal berdagang, dengan percaya diri menjajakan gambar kartun itu kepada teman teman. Bahagia sekali rasanya banyak teman teman yang membeli gambar saya. Orang tua saya pun heran, anaknya yang baru berumur 5 tahun sudah mempunyai ide untuk berdagang, dan mereka pun selalu memberi saya modal kapanpun saya butuh uang untuk menggadakan gambar – gambar itu lagi. Suatu hari ibu saya memberi tahu untuk tidak lagi menjual gambar itu di sekolah, karena saya saat itu tidak mengerti apa – apa jadi saya menurut saja. Kabarnya saya ketahui setelahnya, ternyata salah satu guru TK memberitahu ibu saya bahwa kantin sekolah sepi pembeli karena uang jajan anak – anak dipakai untuk membeli gambar dagangan saya. Namun kesukaan untuk berdagang tidak berhenti sampai disitu. Saat teman – teman lelaki saya suka bermain kelereng, saya melihat ada peluang untuk berdagang. Saya tanyakan kepada mereka tempat biasa membeli kelereng, saya beli dalam jumlah banyak dan saya jual kembali, tapi kali ini saya berjualan di rumah bukan di sekolah. Karena kesukaan saya untuk berdagang itu saya jadi cerewet, dan sifat itu yang masih melekat pada diri saya sampai sekarang.

Saat umur 7 tahun saya sudah memakai baju putih merah, bangga sekali rasanya. Saya disekolahkan di SDN 1 Dawuhan. Berbeda dengan TK, selama masa SD tidak sekalipun saya berdagang. Saat saya duduk di kelas 1, Alhamdulillah saya menjadi juara kelas, dengan itu ayah saya memberikan hadiah sebuah Play Station 2. Tidak banyak cerita selama kelas 1,2,3 karena saya selalu menjadi juara kelas setiap tahun, jadi salah satu guru saya mengusulkan agar saya diikutkan pembinaan olimpiade bersama teman teman yang lain. Saat itu mata pelajaran yang dibinakan adalah matematika. Tapi selama 2 tahun saya mengikuti pembinaan dan ikut lomba, tidak pernah sekalipun lolos. Sampai akhirnya kelas 4 saya sakit parah dan terpaksa masuk Rumah Sakit, saat itu dokter menanyakan kepada saya apakah ada hal yang memberatkan pikiran saya. Saya jawab dengan olimpiade matematika itu. Akhirnya setelah saya sembuh, saya memilih untuk berhenti ikut olimpiade matematika, tetapi orang tua tidak ingin saya vakum dari olimpiade jadi saya memilih untuk ikut bahasa inggris. Alhamdulillah di bahasa inggris saya merasa enjoy, bahkan saat kelas 6 berhasil menjuarai lomba bahasa inggris tingkat Karesidenan Besuki bersama 2 teman saya Cantika Almas dan Haris Wahyudi dengan guru pembimbing Mr. Ari. Semasa SD saya lebih sering bermain dengan teman lelaki, mungkin itu yang membuat saya tomboy hingga saat ini. Tapi bukan berarti saya tidak berteman dengan anak perempuan, bahkan saat kelulusan saya tidak berhenti menangis karena harus berpisah dengan sahabat baik saya Elyta Imaniari. Karena dia memilih untuk melanjutkan bersekolah di Pondok Gontor sementara saya melanjutkan ke SMPN 1 Situbondo. Namun perpisahan itu bukan hal buruk, karena dengan itu setiap hari raya saat Elyta pulang kami reuni bersama semua teman SD untuk silaturrahmi ke rumah guru – guru SD. Setiap tahun sampai sekarang.

Saya berumur 13 tahun saat saya memakai baju putih biru. SMPN 1 Situbondo sekolah yang saya pilih untuk melanjutkan pendidikan. Permulaan cerita masa SMP diawali dengan pertemuan dengan cinta pertama. Seorang senior lelaki tambun berkulit putih dengan rambut pendek yang saat itu sedang menuntun sepeda tidak sengaja bertukar pandang. Singkat cerita saya tanyakan pada teman teman ternyata namanya Muhammad Fahri Priambudi. Masa matrikulasi saya banyak mengenal teman baru dari SD yang berbeda. Pengenalan sekolah pun diarahkan oleh kakak – kakak OSIS termasuk juga Mas Fahri. Saat itu yang saya pikirkan sangat mustahil untuk bisa kenal. Hingga suatu ketika dia datang ke kelas saya dan meminta saya untuk ikut OSIS, saya kaget campur bahagia tetapi saya juga bingung kenapa hanya saya yang diminta, dia menjawab karena saya menduduki peringkat 1 saat penerimaan siswa baru. Saya terpaksa menolak karena saat itu saya tidak mengerti apapun tentang organisasi. Tidak berhenti sampai disitu, selang beberapa minggu dia datang lagi ke kelas saya. Kali ini dia minta saya untuk ikut Kopsis (Koperasi Siswa) dia bilang Kopsis tidak sesibuk OSIS dan saya tidak boleh menolak. Akhirnya saya pun ikut Kopsis. Dari situ kami mulai dekat dan banyak sharing. Beberapa bulan kemudian kedekatan kami semakin serius sampai akhirnya dia mengakui saya sebagai kekasihnya. Singkat cerita semuanya berjalan baik – baik saja. Berhubung Mas Fahri sudah kelas 9 dan sudah melewati ujian nasional itu berarti waktu kami tidak lama lagi sebelum akhirnya dia lulus dan meneruskan sekolahnya di SMAN 2 Situbondo. Pada awalnya kami berusaha untuk terus terhubung namun lama kelamaan semakin sulit karena jarang bertemu juga dia sibuk karena terpilih sebagai ketua OSIS disana. Beberapa bulan kemudian akhirnya kami menyudahi hubungan itu. Dan cinta pertama pun kandas. Saat itu saya sudah kelas 8. Masa SMP kelas 9 saya bisa dibilang sangat bahagia, karena teman sekelas sangat kompak bahkan sering jalan – jalan mengingat waktu kami tidak lama di tahun terakhir ini, kami berusaha membuat setiap momen berharga. Sampai tibalah pada ujian nasional yang berhasil saya lalui dengan mendapat danem 37,90. Ketika malam perpisahan saya diminta untuk menjadi MC berpartner dengan Hafiz Rafizal Adnan, merupakan pengalaman pertama bagi saya yang tidak tahu apa apa tentang membawakan acara. Alhamdulillah acara sukses dan masa putih biru pun ditutup dengan senyum.

Dan ini lah masa sekolah yang saya alami saat ini. Putih abu-abu. Perasaan saya saat mulai menapakkan kaki di SMAN 1 Situbondo agak berat, dimulai dari tidak sekelas dengan teman teman yang akrab, ketatnya persaingan, dan atmosfir yang kompetitif. Lebih – lebih saat pertama disini saya ditempatkan di kelas 10-1. Pada awalnya saya bisa mengikuti arusnya dan berhasil menempati peringkat 2 dikelas. Namun pada semester 2 saya kewalahan dan tidak dapat mengikuti arus itu lagi. Inilah masa yang saya anggap paling depresi dalam hidup saya. Peringkat saya turun jauh, namun yang saya tangisi bukan hal itu melainkan cara orang tua menghadapi hal ini. Saya merasa tidak dihargai atas segala prestasi dari awal kelas 1 SD hingga lulus SMP dibandingkan peringkat yang baru jatuh 1 kali. Saat penjurusan saya mengalami hal yang mungkin sama dengan yang dirasakan anak lain yaitu bingung. Pada angket yang diberikan sekolah saya mengisi jurusan Bahasa karena sangat ingin belajar bahasa dan sastra sedangkan orang tua mengisi jurusan IPA. Sebelum kenaikan kelas 11 guru BK, Bu Yanti menelepon saya dan mengatakan bahwa tidak ada jurusan Bahasa dan meminta saya untuk menentukan pilihan. Saya yang saat itu tidak tahu seperti apa kedepannya hanya mengikuti saja ditempatkan di IPA. Sekarang saat saya menjalani separuh dari masa kelas 11 saya baru tahu bahwa SNMPTN dari jurusan IPA tidak bisa mengambil jurusan bahasa nantinya. Saya hampir menangis saat mendengarkan penjelasan itu. Sekarang andalan saya yaitu SBMPTN dan Mandiri. Tapi tidak seperti dulu, semenjak kejadian depresi setahun yang lalu, hingga saat ini saya belum bisa semangat lagi.

Inilah cerita riwayat hidup saya hingga detik ini.

(Tolong kasih kritik dan pembetulan untuk otobiografi ini. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s